Selain berbagai macam kegiatan di atas kapal, semakin besar sang kapal semakin banyak penumpangnya dan variasi obrolan sesama kami. Sahabat kami bertambah banyak dari bermain bridge sehingga jadi seringan `say hi` kalau ketemu di ruang makan atau di tempat umum lainnya. Namun kami tentu paling banyak ngobrol dengan yang semeja makan di malam hari. Si Rebecca dan Ethan bertanya apakah kami pernah ikut cruise bersama MSC. Perusahaan itu berasal dari Itali meskipun namanya adalah singkatan dari Mediterranean Shipping Company. Kami bilang pernah, cruise ke Amerika Tengah dan ke Panama Canal bersama MSC Lirica. Mereka bilang, mereka sangat terkesan dengan MSC sebab selain servisnya bagus mereka memperoleh pertunjukan lain dari yang lain di saat `Easter`. Persisnya apa yang mereka lalu ceritakan adalah upacara Jum`at Suci dimana para awak kapal memperagakan proses jalan salib Yesus sepanjang Via Dolorosa yang dibuat di atas deck kapal, sampai dengan digantung di kayu salib, yang juga dibuat di dinding kapal. Kami katakan, memang MSC karena kapal Itali, sangat memperhatikan kebutuhan rohani para penumpangnya seperti dari pengalaman kami, mereka menyediakan pastor untuk acara Misa Kudus setiap hari. Kalau saja kapal kami ini MSC, si Mpok Cecile pasti tidak akan keberatan terus cruise sampai Easter :-).
Bermain bridge dengan para jawara, baik yang cowok maupun yang cewek sering mengagumkan bahwa otak manusia bisa sehebring demikian. Kartu- kartu yang sudah dimainkan dan yang masih di tangan, para expert itu akan tahu, sering ada di tangan yang mana mereka tepat dugaannya. Karena friendly game, mereka juga tahu kalau saya atau Cecile salah jalan waktu defense, mestinya bisa bikin mereka down tapi kami salah buang. Demikian juga kalau mereka yang lagi jadi defense dan kami salah main, mereka akan kasih tahu, seharusnya tidak begitu tidak begini. Ketika mau berangkat, saya meminjam buku dari perpustakaan kota Toronto, buku terbaru Stephen Hawking berjudul The Grand Design. Sejak dari terbit di akhir 2010 sudah saya pesan dan ada antrian ratusan orang sehingga baru saya peroleh pas sebelum cruise. Bila Anda belum kenal, oom Stephen, fisikawan dari Inggris dianggap sebagai salah satu orang terjenius di dunia saat ini. Tak heran membaca bukunya yang penuh dengan penjelasan fisika, matematika dan quantum mekanik, lewat dari otakku yang cuma pas-pas-an, bisanya ngedongeng doang :-). Hanya satu kalimat yang masih saya ingat dan ngerti dari 181 halaman buku itu. Yakni, universe kita berasal dari kehampaan, dari sesuatu yang tidak ada, dari kekosongan. Otak saya tidak nyampe untuk mencerna semua penjelasan si Stephen dan pengarang keduanya Leonard Mlodinow, fisikawan dari Caltech, USA. Saya lebih kagum dan nge-fans kepada para jawara bridge :-).
Tadi pagi semakin sedikit yang ikut senam pagi, 30 menit stretching plus 30 menit berikutnya 'abs', latihan kempesin perut. Cuma 2 cewek yang saya duga lesbi karena dua-duaan terus dan seusia (muda) dan satu lagi manula Indihe. Empok Cecile agak mumet katanya dan takut jadi poyeng mabuk laut beneran sebab memang ombak masih tinggi saat ini karena kami masih di Samudera Pasifik, seharian sebelum Bora Bora. Terakhir saya memeriksa koordinat GPS di jam 11 pagi tadi, posisi kapal sudah di lintang selatan 11 derajat atau sudah melewati Nusantara bila hapalan ilmu bumi Indo saya masih benar. Kemarin yang ikut spinning class, ngenjot sepeda nonstop 45 menit juga engga banyak. Satu cowok pren si Jacko instruktur dari Afrika Selatan merangkap bos fitness/spa, satu cewek muda yang kuat keliatan tukang naik sepeda, satu cowok lainnya dan sekaliber dengan saya alias kaga kuat-kuat banget :-), plus si Malusi. Jadi cuma ada 4 murid dan 2 instruktor sehingga kami digenjot banget. Sebetulnya spinning class itu bisa addictive sebab pasca latihan, karena hormon endorphine yang diproduksi berkelebihan, kita merasa oke banget. Sayangnya kudu bayar $ 12 :-).
Kegiatan permainan bridge berakhir hari ini karena mulai besok kapal akan mendarat di 4 pulau-pulau Kepulauan Tahiti. Ceramah si Douglas ada 2 hari ini, Q&A mengenai kepulauan tempat tinggalnya (ia tinggal di Moorea) dan stargazing. Besok malam akan ada kesempatan untuk melihat bintang-gemintang di bagian bumi selatan. Ketika saya terakhir ke Indo, saya hanya sempat melihatnya ketika nginap di Ubud, Bali, beberapa tahun lalu. Konstelasinya memang berlainan meskipun beberapa dapat dilihat baik di utara maupun di selatan katulistiwa seperti misalnya Gemini dan Orion yang cantik jelita. Terakhir saya melihat Crux atau Southern Cross adalah ketika jalan-jalan ke Australia. Semoga esok malam bisa berjumpa lagi dengan doski, si bintang salib di selatan. Sampai kisah berikutnya dari Bora Bora.