Killarney OSA Lake Trip 2011

Anda pernah ikut kursus dimana kau mengharapkan tidak akan pernah memakai ilmu yang kau pelajari, meskipun kau berulang-ulang sudah melakukannya supaya mahir mantab? "Bang Jeha, itu kursus buat orang gila kali yah," kata sementara Anda. Bukan prens, kursus itu bernama CPR Training, singkatan dari Cardiopulmonary Resuscitation. Selama beberapa tahun ketika masih bekerja di IBM, saya menjadi relawan First Aider dan mendapatkan kursus ybs dari St John Ambulance, gratis tentu beserta recertification-nya setiap 2 tahun sekali. Sejauh ini saya beruntung tak pernah harus melakukan CPR di dalam kasus yang benar-benar terjadi. Hampir saja tapinya! Bukan saja hampir saja, tapi yang lebih parah, bisa-bisa terjadinya di interiornya Killarney Lake Provincial Park. "Kog, kenapa Bang Jeha?," tanya Anda yang tidak berlangganan "Pos Kota" Toronto :-).

Karena 10 hari sebelum kami berangkat interior camping, pakai canoe seberat beberapa puluh kilo yang mesti diangkat, plus barang juga puluhan kilogram, salah satu calon peserta, Sutrisna, kena serangan jantung di lapangan parkir Metro Supermarket di Scarborough. Mujur bin beruntung, ia mengalaminya bukan di Killarney Park tetapi masih di dalam kota sehingga hanya dalam waktu beberapa puluh menit, ia sudah mendapatkan perawatan sekaligus di-angioplasty dipasangin ring. Engga kebayang banget kalau saya harus melakukan CPR di portage trail Killarney Park, dimana hampir pasti akan terjadi. "Sok teo ente Bang Jeha," kata para pemirsa lagi. Prens, kalian tidak tahu seberapa beratnya interior camping, jangankan manula seperti saya dan Cecile, anak muda saja sering terengah-engah temehe-mehe portagingnya. Ketika saya kemudian dikasih lihat gambar pembuluh darah sekitar jantung Trisna, satu yang terbesar sudah tertutup 100%.

Bukan maksud saya tentu menceritakan musibah yang dialami Trisna di dalam kisah ini tetapi cuma mau syer bahwa begitulah nasib manusia. You never know what may happen tomorrow, just be prepared, more importantly, carpe diem, seize the day, be happy you wake up OK this morning. Mari kita kembali ke laptop. Trip interior camping ke Killarney Lake selalu harus dimulai paling engga 5 bulan sebelumnya sebab hampir mustahil bisa dapat campsite di akhir pekan, ajaib kalau bisa di long week-end seperti Canada Day 1 Juli lalu. Itu yang saya dan Ayrini lakukan, pas 5 bulan sebelum hari-H kami berangkat, jam 7 pagi teng kami mulai telepon kantor cagar alam dan kami berhasil mendapatkan 2 permit karena pakai akalan. Yakni kami majuin sehari berangkatnya, di tanggal 30 Juni, bukan 1 Juli-nya.

Nah, untuk 5 bulan masa penantian dan pengumpulan mereka yang berminat ikutan, saya harus melakukan iterasi trip plannya sebanyak 15 kali karena calon peserta keluar masuk. Artinya ada yang mendadak batalin, ada yang baru yang mau ikut, dsb. Itulah tugas mulia dari Jeha Outfitter alias servis kami. Menjelang hari-H, saya semakin gembira karena ramalan cuacanya oke sekali. Tak lain tak bukan karena ada beberapa rookies di trip ini, termasuk 2 anak kecil. Tak perlu disebut dikemukakan bahwa hujan di hutan membuat camping trip tidak senyaman engga pakai basah-basahan. Kekecualian kalau Anda mau interior camping cuma tuk honimunan di dalam tenda :-). Saya dan Cecile pernah kemping duaan wae ke Algonquin Rain Lake dimana selama 2 hari 2 malam, hujan tak pernah berhenti. Cocok banget dah nama bagian cagar alam tersebut.

Tidak terlalu sukar mengumpulkan 18 Melayu tuk ikutan kemping di Kanada ini. Itulah maksimum peserta interior camping dengan modal 2 permit. Lebih sukar kalau lalu mereka tahu bahwa selama beberapa hari MCK alias mandi cuci kakus mereka ada di jaman purba :-). Yang namanya mandi adalah berenang di air danau, syukur-syukur sejernih Killarney atau OSA Lake. Forget cuci-cuci baju, emangnye. Nah, Melayu anak-anak yang besar di kota, 99.99% imigran di Kanada demikian, paling gemeteran kalau dikasih tahu, BAB atau istilah terkininya boker harus mereka lakukan di suatu kotak, memang namanya box :-). Entah kenapa, dimana salah bapak ibu abad ke 21 ini mengajarkan mendidik anak-anak mereka :-), kenapa susah banget untuk meyakinkan para calon maupun peserta kemping, tidak ada ular yang akan matol si "ujang" menggigit "perabotan" si eneng :-). Suwer, sudah 1000 kali saya duduk di atas box demikian :-), jauh lebih aman dibandingkan naik kapal terbang, ihik ihik.

Dua mingguan sebelum hari-H, saya masih membuat trip plan dengan hampir maksimum peserta, karena Trisna sekeluarga dkk-nya akan berjumlah 4 s/d 6 orang. Seminggu sebelumnya, saya harus melakukan gerak cepat, membatalkan rombongan Trisna, mengatur kembali posisi para canoeist siapa mendayung dimana, termasuk beban mereka. Juga mengganti nama pemilik permit serta membatalkan 1 kanu sewaan disamping mengambil alih jatah tugas menyiapkan makanan Trisna Ayrin. Itulah sedikit contoh persiapan suatu interior camping yang perlu direncanakan dengan cermat. Kekurangan bawa barang alamak, kelebihan makanan sami mawon, bakal diomelin orang serumah kalau dibawa pulang. Eniwei, sehari sebelum hari-H yakni 29 Juni pagi-pagi, saya sudah siap dengan 2 kanu bertengger di atas atap mobil. Laporan permisi dulu ke Oom Han alias ikut Misa pagi sebelum berangkat, minta berkat cuaca yang oke punya selama camping trip :-).

Seusai Misa pulang lagi ke rumah untuk ambil makanan yang sebagian di-freezed supaya tahan lama, seperti gudeg a la Cecilia yang laris manis dimana saja kapan saja plus kuah bubur. Lalu berangkat menjemput dua kustomer, Bang Herry dan Diane, keduanya peserta setia JHO. Kami berangkat sehari sebelumnya a.l. untuk persiapan sewaan kanu maupun check-in di cagar alam. Karena prosesnya makan waktu paling engga 1 jam lamanya (apalagi kalau pol 18 orang) maka kepergian sehari itu membuat peserta yang datang di hari-H tinggal berangkat. Begitulah skenario yang terjadi di pagi hari tanggal 30. Reinard yang tiba duluan dan memberikan info lewat FRS dia udah di-shore George Lake, tempat canoe akan diluncurkan menjelang jam 12. Dia dan kedua adiknya termasuk anak-anak mujur berbahagia sebab dianterin kempingnya, 400 km sejalan oleh bokap nyokap mereka, plus DITUNGGUIN seakhir pekan! Seumur-umur saya kemping di Kanada sini belum pernah saya bertemu dengan ortu sekaliber demikian :-). Jadi Kris dan Siu Yang kalau kalian kenal, ikutan car camping di George Lake sampai hari Minggu. Tolong itungin 9 bulan sejak akhir pekan lalu, siapa tahu Reinard dapat adik lagi, ihik ihik :-).

Tidak berapa lama kemudian, SMS dari cellphone-nya Lucas masuk, melaporkan ia sudah tiba dan tanya urusan car parking permit. Info untuk Anda calon ke Killarney Park, sekarang cellphone (paling engga pelanggan Rogers) udah nyala idup kalau cuma di George Lake doang. Lucas membawa sisa rombongan selain satu putrinya, Johny B dan Djoni S serta Zelene si kecil, barangkali peserta termuda selama kami interior kemping selain Zelene meski masih ompong tapi berani nge-box. Bapak-bapak yang kepengen banget ajak anak-isterinya interior mungkin ada bagusnya bikin box dulu en taro di atas WC di rumah, untuk membiasakan sang anggota keluarga gitu :-). Kembali ke alur utama cerita, akhirnya sekitar jam 1-an siang kami berangkat dari George Lake dengan 4 kanu, masing-masing dimuati 3 orang.

Bawa rookies kemping selalu membawa mujur, begitu pemeo saya dan Cecilia yang sudah puluhan kali kemping bersama mereka. Salah satu alasan lain saya ingin berangkat pagian dari tepi George Lake adalah danau itu relatif besar dan dalam alias ombaknya sering tinggi di siang hari, paling engga 1 feet, kami pernah ngalamin sampai 2-3 feet. Tak usah ditulis dibilang, ombaknya tenang seusai Kris dan Siu Yang melepas tiga anak kesayangan mereka. Tak salah lagi pintu surga sudah mereka gedor dengan doa-doa :-). Tiffany yang baru pertama kali ikut dan di canoe-ku, termasuk anak yang rajin ngedayungnya. Boleh dilamar 10 tahun lagei :-). Juga ajak dia kita engga pernah akan kesepian alias doi termasuk bawel. Nice to have you Tif :-).

Tak sampai 1 jam kami sudah mencapai ujung danau, portage ke Freeland Lake. Deck khas disitu sudah diperbaiki, mulus lagi padahal tahun lalu bolong-bolong. Maklum di akhir pekan, lalulintas kayak dan canoe disitu bisa 100an per harinya karena George Lake adalah access point ke banyak danau lainnya di cagar alam Killarney. Pindahin barang sebentar karena portagingnya cuma 100an meter, kami sudah ngedayung lagi di Freeland Lake. Pelajaran skul a la JHO dimulai, yakni kasih contoh beaver dam dan beaver lodge teh seperti apa nak. Bunga-bunga lily yang bertebaran di atas air danau disitu memang serba memikat sehingga membuat Tiffany memintanya satu tuk dipuja diciumi :-).

Tibalah kami di ujung Freeland Lake, lalin perkanuan relatif sepi sebab baru Kamis tanggal 30 Juni dimana Canada Day jatuhnya Jum'at. Sering kanu disitu bisa ada 10 biji saling nunggu bongkar muat para campers. Portagingnya lumayanan, 450 meter menuju Killarney Lake. Medannya relatif rata, cuma turunan tanjakan di awal-awalnya. Saya bawa canoe setengah jalan, ambil pack dan makanan. Lucas kolegaku, my paddling buddy kemudian membawa sang canoe sampai ke ujung trail. Mulailah kami mendayung di paradise water, air biru kehijauan, hijau kebiru-biruan. Peta interiorku di SD card satu lagi ketinggalan di rumah, udah gitu kompas di GPSku bego nian, so pasti salah alias mesti dikalibrasi. Sebetulnya mudah untuk ngedayung di Killarney Lake pasca portaging. Begitu masuk danau luasnya, ambil utara terus dan kalau engga tahu utara dimana tanpa kompas, jangan pergi canoeing bawa anak orang alias so pasti nyasar rek :-).

Kuperhatikan semua yang ngedayung di depan, si Empok nomor satu, kaga salah arah masuk ke teluk. Beres kalau gitu, obrolan bersama Lucas bisa diteruskan selain menjawab banyak pertanyaan Tiffany si bawel :-). Mengapa air danau itu berwarna-warni? Mengapa airnya bersih tak ada ikan seekorpun? Mengapa bapaknya ngedayungnya di kiri terus :-). Killarney Lake terletak di suatu lembah dan rentan terhadap angin yang akan bersifat 'wind tunnel'. Kembali kemujuran rookies bersama kami semua, tiada ombak juga disitu. Tak lama mendayung, Cecile sudah merapat mendarat melaporkan lewat FRS telah tiba di campsite nomor 21 yang kami namakan canoe port campsite. Dia tanya mau engga disitu. Kujawab bahwa selama kira-kira ada lahan buat 5 tenda, ambil azha. Jawabannya positif dan karena toh campsite itu salah satu yang teroke di Killarney Lake, kami semua merapat menurunkan perlengkapan. Our first night in the interior and everything is cool termasuk nyamuk dan blackfliesnya biasa-biasa sahaja untuk ukuran backcountry campers.

Serial marathon ini diteruskan sebab Bang Jeha sebetulnya banyak kerjaan, a.l. tutup buku akhir tahun kumpeninya. Dinner pertama adalah arem-arem, Betawiers bilangnya buras, buatan enyaknya si Johny, Cie Sien yang kalau kalian udah lama di Toruntung mestilah kenal. Masakannya memang salah satu yang terenak seGTA. Entah apakah Johny kaga baca email bahwa peserta diciutin jadi 12 atau sang buras sudah dibikin sebulanan lalu, dia angkut jatah tuk 18 orang rek. Akibatnya breakfast dan lunch di hari esoknya, buras masih tersisa. Kendalanya kemping di musim panas, apalagi sekitar akhir Juni, matahari masih bersinar dengan megahnya di jam 9 malam. Dpl, kami para pemirsa bintang peminat astronomi, cuma kebagian sedikit waktu yang gelap gulita sebelum kami teler. Dua manula si JH dan nyonya begitu jam 11 malam, udah kaga kuwat untuk gegoleran di tepi danau ngeliatin nonton bintang satelit meteor. Jadi kami putuskan meski kami cuma rakyat jelata tuk masuk ke tenda dan beradu, tidur gitu.

Menjelang pagi, kalau di Toronto robbins yang paling ribut bangunin kita, di interior cem-macem burung. Yang kedengaran nyata adalah yellow warbler yang khas suaranya. Belum lagi seabrekan burung jenis lainnya, kutilang perkutut nuri kuntul, eh itu mah burung di Indo. Burung yang kutak-tahu namanya, yang pasti suaranya merdu semerdu azan pagi di Indo :-). Kubangun pagi, kukehilangan Bang Roli yang seperti hamba, seorang morning person. Jadi kuturunkan makanan yang dikerek semalamnya sendirian, terutama bahan-bahan buat bikin bubur ayam. Ngopi dhewek tungguin si bos yang engga lama juga bangun. Hari itu adalah hari cerah, planned day trip ke OSA Lake, July 1 dalam rangka merayakan HUT Kanada :-). Rakyat bangun satu persatu dan pas dah timingnya untuk menyantap bubur ayam Cecilia yang tak kalah nyamannya dibandingkan bubur hostess di daerah Kota jaman dahoeloe. Kalau Anda tak tahu, bubur disitu jadi terkenal sebab para hostess dari panti pijit sekitar situ datang makan bubur. Bila sambil menyantap bubur hostess kita bisa melihat pemandangan indah ciptaanNya di diri si siti hawa, bubur Cecilia di interior kita santap sambil menikmati asrinya suasana alam di Killarney Lake campsite tersebut, tiada duanya dari segi ketenangannya, relaxing.

Jam 10 teng kami sudah mulai berangkat menuju OSA minus Bang Herry. Beliau sekarang jadi pelukis pro, setiap kesempatan ke interior bersama JHO, ia akan melukis mencari ketenangan dan inspirasi. Pas sampai di pinggir OSA setelah portage sebentar, kembali air danaunya tenang syahdu memanggil memukau hati kami. Reinard yang di trip ini menjadi pendayung utama di haluan alias tukang nyetir semakin oke setirannya, udah kaga zigzag dan belakangan dia sudah bisa juga melakukan J-stroke. Way to go Rein, Adhi should have seen your performance and be proud of :-). Pulau blueberry tujuan tak lama kami jelang dan labuhi, kaya naik perahu azha yah. Cuma karena tiada jangkar, maka canoe kami naikkan ke daratan sedikit. Tibalah kesempatan yang sudah ditunggu para peserta, berenang di OSA Lake yang tiada duanya kejernihannya di sekitar Ontario bilangan sini. Puas berenang, apalagi kegiatan Melayu kalau bukan ... makan. Menunya crash plan pengganti sandwich a la Ayrini (yang juga sudah kebeken sebetulnya). Yakni pita vegetarian yang dibeliin Bang Herry, cuma pakai coklat Nutella atau peanut butter. Di interior, makanan apa juga akan serasa nyaman enak. Sebelum ombak di OSA keburu tinggi, sudah 1 feet-an saat itu, saya ajak rakyat tuk kembali ke Killarney Lake campsite. Weladalah, di awal portage ketemu Melayu 5 orang yang juga interior camping mau menuju Baie Fine Lake, jarang-jarang neh ketemu wong Asia, apalagi Melayu.

Ngobrol sebentar dengan rombongan Melayu dua kanu tersebut. Yang satu namanya Kristian baru lulus OCAD tapi sudah berani kawin karena sudah bekerja katanya di suatu biro arsitek. Pren ngedayungnya bernama Adrian, masih skul di York U, yang pasti bukan jurusan canoeing. Tanya mereka kemana dan dimaklumin alias masih jauhan dikit lagi, dua portaging. Jelas mereka kaga kebagian campsite yang prima di Killarney maupun OSA sehingga terbuang jauh sedemikian. Setelah memberikan kartu nama JHO :-) lantaran Lucas bantuin prosmotsi, kami tinggalin mereka dan jalan lagi. Hari sudah menjelang sore, acara yang tadinya mau dilakukan, canoe rescue technique terpaksa dibatalkan karena rakyat sudah pada teler. Kami jelaskan singkat azha yakni kalau canoe terbalik, mustahil bisa dibalikin dikosongin dhewek dan dinaikin lagi. Untuk itu cuma ada 2 opsi. Kalau ada canoe satu lagi punya pren, naikkan sang canoe dalam posisi terlentang terbalik ke atasnya sehingga airnya kosong. Kembalikan ke dalam danau dan naikin. Begitu teorinya, prakteknya semoga kaga pernah perlu dilakukan seperti kalau kita ikut kursus CPR. Oya opsi kedua, berenang kepinggir dan kalau bisa canoe ikut didorong, kalau engga antepin azha sebab canoe kaga bakalan tenggelam, ada floating chamber di kedua ujungnya.

Acara menjelang makan malam adalah pelajaran bermain judi daripada (salahkan :-)) si Diane wong Hong Kong. Dia bawa kartu mahjong, pas cocok buat di interior (kebayang portage meja dan batu mahjong :-)). Cecile dan saya dulu sering main mahjong bersama dua prens tetangga kami, si Maria dan Ignatius Dharmasurya alias udah ngerti dasarnya maupun tipuannya. Tinggal ajarin anak-anaknya Kris en si Tiffany :-) supaya dari kecil tak takut berjudi, eh terbiasa bermain cem-macem kartu :-). Tiffany bakat banget selain mujur. Saya dan Cecile bengong terus, dia game masuk beberapa kali. Lucas, boleh beliin satu mahjong set buat dia, ihik ihik :-). Ada tambahan permainan lagi jadinya untuk trip JHO masa mendatang selain dari (selama ini) main truf doang. Oya, di akhir trip si Diane mewariskan kartu mahjongnya ke kami.

Tak usah dibilang sedapnya makan malam, krupuk ikan oke punya ex Indo yang fresh baru digoreng, beserta menu utamanya gudeg a la Cecilia yang tak perlu dipromosikan lagi mutunya. Jumlahnya seabrekan alias masih tersisa, pas untuk peserta yang vegan, Bang Herry dan Diane. Malam itu langit banyak berawan sehingga kami tak lama di shore nontonin pagelaran bintang sebentaran. Api unggun sih tetap berjaya karena Djoni S modalin marshmallow buat anaknya en anak-anak gede lainnya. Enaknya kemping di musim panas, tak diperlukan kayu seabrekan guna penghangat badan maupun tukang bikin api sekaliber si Mote :-). Kayunya mudah menyala dan tak perlu kita menebang satu pohon pinus untuk persediaan kayu bakarnya. Kedua anak di trip ini, si Zelene dan Tiffany termasuk bocah wedhok yang kuat. Sampai jam 11 mata mereka masih belum perlu diganjel alias tetap segar :-). Semoga suatu ketika mereka bisa mencintai alam raya maupun jadi canoeist seperti (sayang engga jadi ikut) Monika Wijaya yang sejak masih kinyis-kinyis sudah sering ikutan interior camping. Kaga tahu kenapa tapi saya simak perhatikan, mayoritas gender yang interior camping itu adalah perempuan. Barangkali karena di antara kami para canoeist tiada stereotyping. Cewek yang ikut kudu siap-siap manggul canoe angkat beban seperti cowok. Disamping itu, kebebasan menjadi insan yang merdeka, terjamin penuh di alam raya sehingga jangan heran kalau Anda bertemu sepasang cewek atau sekelompok perempuan doang yang kemping bersama-sama.

Sabtu 2 Juli 2011 adalah hari dimana diramalkan akan turun hujan. Begitu bangun pagi, bak satwa yang bisa mencium kan tibanya hujan, Bang Jeha dimodali info ramalan cuaca, mempersiapkan tarp buat berteduh bila turun hujan yang deras. Entah siapa yang buang CDnya ke atas genteng sebelum trip, hujan deras tidak jadi turun, cuma rintik-rintik sebentaran. Menu makan pagi juga crash plan menggantikan mie pancakenya Trisna. Yakni indomie goreng pakai bakso suguhan Bang Jeha. Trip hari itu adalah buat para kawula muda hiking, rencana sih menuju Silver Peak, puncak tertinggi di Killarney Ridge. Belakangan karena mereka berangkatnya sudah kesiangan maupun tak siap hiking seharian, mereka cuma sampai setengah jalan, di tempat yang tetap indah sih, bernama The Crack. Karena tahu medannya cukup berat, maka anak-anak dititipkan di JHO nursery :-). Ya, saya dan Cecile nge-baby sit Tiffany dan Zelene, selain mempermantabkan keahlian mereka main mahjong :-) juga mengawasi mereka berenang berduaan. Mayoritas anak-anak, kalau ditinggal oleh ortu mereka, umumnya berkelakuan baik, dapat A di rapor :-). Selain itu kami punya sogokan berupa coklat Lindt buat yang menang mahjong :-) plus indomie goreng untuk yang kelaparan.

Menjelang sore, para hikers yang kehausan kelaparan kecapean tiba en langsung ngedeprok :-). Servis JHO kembali berkibar, nasi sudah matang, ada pilihan gudeg dan indomie yang sudah tersedia, masih panas ngebul-ngebul. Sebenarnya sebentar lagi makan malam, nasi dengan empal oke punya karya ibunya The Muliadi kids sudah akan disuguhkan. Jadi dinner kami perlambat waktunya sedikit sehingga empal yang sungguh enak juga, rugi banget dah jadi vegan :-), bersih dihabek se-12-kurawa. Malam itu malam terakhir sehingga para mat kodaks en miss fuji bergegas menunggu tibanya matahari terbenam. Usaha mereka tak sia-sia karena karya salah satu darinya, mendapat banyak pujian setelah dipasang di flickr. Ga percaya pirsa dhewek: http://www.flickr.com/photos/emuliadi/sets/72157627119561822/

Ya, kalau kita senang fotografi, apalagi mau motret bintang di langit, tak ada tempat yang lebih ideal di interior camping. Nasya sang rookies so pasti tak akan kapok untuk pergi lagi meskipun dia membawa oleh-oleh puluhan gigitan nyamuk :-). Di foto ke 48 dari total 53nya, saya memberikan komentar sbb. Quote. This is my choice pic of all :-), kidding. Nice pictures Nasya, memorize some of the serene scenes you took. When life becomes hectic or stressful, download those scenes from your main storage in the brain and just remember how you enjoyed the moment! Unquote. Itulah salah satu rahasia kehidupan yang selama ini saya jalani. Yakni sejak masih di Indo saya sudah banyak modal "foto" favorit dari perkempingan di Carita, di Paragajen, di Pangumbahan, yang saya unduh dari waktu ke waktu bila butuh relaxation maupun terkena "panah beracunnya" dunia.

Malam itu perfecto dari segi cuaca maupun bugs yang tidak banyak. Saya sampai tak perlu pakai insect repellant, apalagi bug jacket. Kubah langit terbuka 180 derajat dan galaksi kita tampak jelas membentang dari utara ke selatan. Nasya berhasil mengabadikan sebagiannya. Bila Anda tinggal di Sudbury yang palingan 70 km jarak langsungnya dari campsite kami, Anda sudah berdosa. Ya, polusi cahaya rumahmu terlalu terang dan mengakibatkan foto yang diambil Nasya ada erornya, warna hijau di horison dari Sudbury. Itulah dampak polusi cahaya, sedemikian sehingga kunang-kunang sudah punah di Toronto dan di campsite kami tinggal satu dua. Pagelaran bintang di langit malam itu kumplit sebab semua peserta berkesempatan melihat bukan saja Milky Way Galaxy, juga berbiji-biji satelit dan tentunya meteor atau "bintang jato" kata anak Betawi. Sekian laporan perjalanan JHO trip di awal musim panas ini, sampai bertemu di kisah ke Algonquin Bice Lake 7-10 Oktober yad untuk menikmati indahnya musim rontok di negeri ini. Bai bai lam lekom, tararengkiyu kepada semua peserta en kerjasama Anda.

Killarney Park, 3 Juli, 2011
Home