Menjadi Lansia Yang Hepi

Itulah judul suatu presentasi yang dipersembahkan si Mote, Romo Teja kalau Anda kenal darat, di paguyuban manula Toronto kemarin dulu. Saya tentu hadir, kalau engga mana bisa menulis berkomentar. Di dalam hati, sebelum datang, kukatakan hebat juga si Mote ini, masih muda belia tetapi berani memberikan presentasi yang superkompleks serba sulit. Napa? Anda masih ingat dua serial puluhan seri saya, Psychology of Aging dan Facing the Fifties? Karena berbuku- buku sudah dikarang orang, ratusan ribuan thesis sudah ditulis seputar lansia, en toh belum ada resep yang jitu agar para manula bisa hidup hepi. Seorang warga milis Psiko mengomentari tayangan Blue Zones-ku barusan malah menulis neneknya yang sudah 100-an tahun sudah kepengen mati saja. Jelas orang yang hepi mana mau lekas-lekas mati.

Di tayangan Hikmah dari Blue Zones saya melontarkan satu istilah, locus of control. Orang yang kehidupannya masih banyak dipengaruhi faktor di luar dirinya, external locus istilahnya, akan sukar hepi kalau ia menjadi manula. Orang seperti itu perlu mengubah orientasinya dari dunia luar ke diri pribadi dalam arti menjadi manusia reflektif. Si Mote menyinggungnya, maklum ia pastor rek :-). Yakni menjadi kontemplatif. Untuk manusia sibuk bin duniawi bisa menjadi manusia perenung demikian, tentulah tak mudah, engga bisa sekejapan dan kalaupun selama setahun si Mote kotbahin judul ini, belum tentu juga ia bisa hepi sebab kita ngomongin perubahan psikologis yang besoar. Bila Anda mampu melakukannya atau bertemu manula, lansia yang hepi, Anda sudah berubah dari manusia outward ke manusia inward. Itulah sebabnya orang suka berkata, happiness comes from within oneself.

Suksesnya transisi dari duniawi ke kontemplatif ini membutuhkan proses 'let go' yang kompleks. Membiarkan diri dhewek melewati tahapan berduka terhadap cem-macem hilangnya hal yang yang berharga yang sedikit banyak sudah pernah saya singgung di serialku terdahulu. Kalau Anda mau menulis paper atau sedang membuat thesis, tulisan-tulisan William Bridges, pakar transisi, boleh Anda baca atau jadikan referensi. Satu buku sedikit banyak ia dedikasikan ke penjelasan proses THPnya ketika kehilangan isterinya yang direnggut malaikat maut karena kanker. Yang menarik untuk saya, ternyata si pakar transisi kelimpungan dan berdepresi juga menghadapi kematian isterinya. Tak heran Rahe dan Holmes memberikan angka 100 di skala stress mereka untuk musibah ditinggal suami atau isteri.

Ketika Freud ditanya apa yang dibutuhkan manusia untuk hepi, ia menjawab: "to love well and to work well". Jelaslah kenapa Anda sukar melihat kehepian lansia, mengapa si Mote ambisius ye :-). Lansia bisa ML sebulan sekali udah ajaib mek :-), apalagi masih bisa nyangkul. Studi yang dilakukan Robert Atchley dan Sheila Miller memberikan satu benang merah. Mereka mewawancarai pasutri kelompok menengah, berpendidikan akademis, baik yang sudah tua maupun yang masih muda, tinggal di suatu daerah di Ohio yang bebas kriminil. Mereka menjumpai responden yang hepi, mempunyai kesamaan nilai, minat, tujuan hidup. Mereka bergembira dan memperoleh kebahagiaan masing-masing. Suami dan isteri jadi pada mirip, yang satu demen bersepeda, yang lainnya tak kurang sukanya. Yang satu senang berenang, yang lain ikut nyemplung asal jangan telanjang :-). Ya, kegiatan dan cita-cita hidup mereka banyak yang identik, sekitar 80%-an. Kata kedua periset itu, mereka saling menerima pasangannya, berbakti, setia ke satu sama lain, menikmati hidup bersama. Benang merahnya, untuk bisa menjadi lansia yang hepi, diperlukan investasi seperti di atas di kala muda.

Satu studi lagi dari Depner dan Ingersol-Dayton bersifat kontradiktif. Responden mereka bukan kaum menengah atau terdidik, rata-rata lebih tua dari responden di studi sebelumnya. Ketidak-bahagiaan menjadi tema utama. Semakin tua sang pasangan, semakin sedikit dukungan emosionil, hormat dan perawatan yang saling diberikan maupun diterima. Bukannya mereka semakin dekat, di akhir usia mereka, dari sisi emosi mereka menghindar dari pasangannya. Kalau kata anak Betawi, elu lu, gue gue. Jadi, ketika kebahagiaan terjadi di pasutri yang status sosioekonominya oke, kekecewaan, isolasi, jarak menghinggapi pasangan tua renta yang kismin. Bagi banyak di antaranya, berjalannya tahun membawa kepahitan dan kegetiran, bagi yang lainnya kemanisan dan keharmonisan, semakin mendalamnya cinta.

Warga milis serviamTO yang aktif berkomentar terhadap tayangan Blue Zones mengemukakan diperlukannya bukan saja vitamin D untuk lansia bisa sehat dan dengan demikian hepi, juga "vitamin D" dari Duwit :-). Yup. Suatu tim riset dari Duke University menemukan mereka yang sehat dan tidak kekurangan duit, menentukan kehepian lansia. Orang beruang adalah yang menikmati pensiunnya. Jadi rek sekampungku, nyangkul terus lach yauw sampai ente punya duit sejuta dollar :-), konon rumusan akuntan bagi seorang Kanada sebelum nyebur pensiun. Para periset juga menemukan mereka yang terpelajar, menikah, terlibat dalam kegiatan sosial, cenderung hidup hepi. Sebetulnya orang yang hepi dalam pekerjaannya, kemungkinan ia akan bahagia pula di masa pensiunnya ketika ia menjadi lansia. Suatu studi dari Reichard, Livson dan Peterson menyangkutkan hal itu dengan kepribadian. Orang yang kaga hepi, sukar untuk berubah atau beradaptasi dan akan menjadi lansia yang tidak hepi juga. Oleh karena itu, sekali lagi presentasi si Mote kuanggap ambisius dan kutunggu apakah ia akan memberikan presentasi babak keduanya :-). Monggo Mo.

Hari ini saya menjadi lansia hepi beberapa kali. Secara ironis. Kemarin Celia seorang warga milis serviamTO yang berisi wan-wan-sib imigran ex Indo mensyer sedang dijual obral indomie goreng $ 6.99 per dos di suatu chinese grocery. Meskipun konon indomie mengandung plastik atau tak bagus buat kesehatan, saya katakan ke Celia, di umur 62, bisa tambah hidup sehari sudah suatu bonus. Jadi mana kupedulikan makan indomie goreng pakai plastik dan sarat MSG, konon. Nah, malam ini seperti rutin setiap Selasa, saya berenang di kolam renang dekat rumah. Masih tetap asyik, sepi, air kolamnya jernih bersih. Saya bertemu dengan prens sesama perenang laps yang sudah tahunan sama-sama nyemplung setiap Selasa, terkadang Minggu disitu. Saya katakan ke Tony, satu wong Singapur, "You know, Victor broke his arm and would not be able to swim for several months." Victor teman kami semua, anak Sukabumi yang juga langganan berenang. Jawab Tony, "Victor is no longer here." "What do you mean?," tanyaku heran. "There is no more Victor." "You meant he is dead?" Ia manggut dan saya terkejut. Singkat cerita, Victor mati mendadak dan tak punya sanak-saudara seorangpun di Kanada, ia diketemukan pingsan tergeletak di luar bungalow rumahnya oleh tetangganya. Lebih menyingkat cerita lagi, ia tak ketulungan alias dut. Tak jelas, kemungkinan stroke, bisa juga heart attack tetapi karena seminggu ia berenang bangsanya 5 kali, lebih mungkin ia terkena stroke. Sehabis mendengarkan syering Tony, saya katakan, let's enjoy our swim today dan kami meneruskan berenang laps kami.

Hari ini saya juga hepi ketika bertandang ke IBM Lab, kantorku yang lama, menemui mantan juragan saya yang tetap masih pren. Ia senang nanggap saya karena saya tahu informasi rinci akan masa depannya, maksudku kalau suatu ketika ia pensiun dari IBM. Saya bertemu beberapa sohib lama, a.l. JF prenku bersepeda dan kemping maupun DY, ex anak-buah dan juga pren kempingan. Mereka sehat-sehat dan oke terutama DY yang karirnya masih akan terus naik. Saya lalu bertemu atau melihat Ed Van Gennip, juga mantan kolega dan kami sering ngobrol karena seperti saya, ia bersepeda ke kantor plus bokapnya dari Belanda. Ketika saya terjemahkan arti namanya dan ia manggut, kami mulai bersahabat puluhan tahun lalu. Nah, pas saya bertanya apa kabar ke doski yang kulihat kurus kerempeng dan sudah kaya kakek-kakek, ia berkata, "I got a brain hemorrhage Jusni. I was collapsed on Monday, woke up again on Wednesday. I was in a coma for two days." Ed jombloer. Singkat cerita lagi, ia bisa sadar sendiri, masuk rumah sakit dan dokter berkata, "You are lucky, the hemorrhage stopped by itself and you did not lose anything." Maksudnya ia tidak jadi vegetable, tidak lumpuh dan cuma butuh recovery beberapa minggu di rumah sakit sebab katanya ia jadi lomas. "I am going to cycle again soon Jusni," kata si Ed dan saya cuma manggut sambil menyemangati dan menyalam- lekom kepadanya. Saya hepi untuk Ed dan diriku, umurku lebih tua dari doski dan setiap hari bisa bersepeda dan berenang adalah suatu bonus.

Kepada pak dokter Erik yang memasukkan tayangan perdana serial ini kemarin di situs blognya, saya tidak akan mengemukakan riset-riset psikologi tapi satu teori ilmiah saja dari Leon Festinger. Tuk warga milis Psiko, semoga belum bosen :-). Yah, downward social comparison theory beliau. Manusia menjadi lebih hepi ketika membandingkan nasib atau dirinya, dengan mereka yang lebih kurang beruntung atau lebih amblas. Ironis kan kataku tapi itu teori yang universil. Bukan hanya Ed dan Victor yang menjadi referensi D.S.C. saya. Hari ini juga ada rejeki masuk ke rekening bank saya yang lumayanan jumlahnya, cukup untuk membiayai satu mata kuliah Psikologi. :-) Kalau saya sebutkan dari mana, warga milis serviamTO di Toruntun yang rindu ngerumpi akan menagih "tumpengan dong" :-).

Ya, bisa jalan kaki setiap pagi atau nyetir mobil hari ini karena hujan angin kencang, bertandang ke kantor lama, bertemu dan melihat cem-macem hal disitu adalah sumber kehepian. Dari mulai makan di cafetarianya dengan harga murmer sampai ditraktir Tim Hortons oleh si ex boss, melihat ruangan kantorku yang masih sama, sampai meresapi lagi suasana cangkulan IBM, menjadikan saya hepi beberapa kali. Bisa ngobrol beberapa jam dengan GF si bos yang sudah tinggi pangkatnya dan gajinya di atas 6 digit :-) adalah bonus kehepian. Bisa tidur siesta untuk siap berenang laps sekilometer, suatu double bonus. Bisa berenang di malam harinya triple hadiah. Pulang mampu ngarang tulisan ini sambil disuguhi es cingcao hijau dan lengkeng plus jamur putih oleh si bojo, quadruple gift. Akhir kata, looking forward to go to bed cause tonight is the night, is heavenly, ihik ihik wekekek :-).

Kemarin malam waktu menulis seri yang lalu, saya agak terburu-buru, maklum Bang Jeha ada di dalam sikon 'tonight is the night'. "Apaan itu Bang?," tanya mereka yang selama ini malu bertanya dan suka engga hepi karena nyasar :-). Anda yang tinggal di Amrik tahu yah Dr. Ruth Westheimer, pakar sexology yang suka kasih ceramah? Suatu ketika di dalam ceramahnya di muka ribuan orang, ia melakukan 'on the spot survey'. Ia minta para responden menjawab dengan mengacungkan tangan atas pertanyaannya. Ia lalu mulai bertanya, siapa di antara rakyat yang setiap hari ML? Puluhan tangan ngacung ke atas, wajah- wajah si cowok en si cewek kelihatan memang gembira, apalagi yang cowoks :-). Siapa yang ML-nya beberapa kali seminggu? Ratusan tangan ngacung, wajah mereka kelihatan hepi juga. Sapa yang sekali seminggu? Sama kira-kira jumlah respondennya maupun tampang mereka, tapi tidak sehepi kelompok terdahulu maupun sebanyak sebelumnya. Berapa yang sebulan cuma sekali dua kali? Lebih sedikit yang ngacung, wajah-wajah kurang hepi bo. Bagaimana yang setahun cuma beberapa kali. Tambah sedikit rek, jelas tak ada lagi yang tersenyum gumbirah. Lalu Dr Ruth mengajukan pertanyaan terakhirnya, siapa yang setahun sekali? Satu tangan ngacung, wajahnya menyeringai penuh kegembiraan, mulutnya terbuka lebar dari kiri ke kanan, tertawa. Tentu saja bu dokter heran, kog? "Why are you so happy?," tanyanya. Si cowok responden bangun dari duduknya dan sambil berloncat-loncatan berkata: "Because tonight is THE night!" Jadi sekarang Anda tahu satu rahasia hepinya lansia, ihik ihik :-).

Karena tergesa-gesa, saya tidak sempat syer satu cerita lagi dari mantan juragan saya, GF. Ia bilang tetangganya lansia orang Yunani yang sugih, di bulan Juni komplein sakit-sakit bagian punggungnya. Ia sudah menduga tapi ga berani ngomong. Si tetangga check ke dokter dan dapat vonis, kanker paru-paru stadium lanjut yang sudah menyebar. Di bulan Agustus lalu sang tetangga aut, 3 bulan-an, padahal sedang mau mulai menikmati lansianya a.l. dengan pulang mengunjungi Greece Islands yang kita tahu indah permai. GF menambahkan bahwa si tetangga suka keluar rumahnya ngerokok. Duh :-(. Victor prenku perenang anak Sukabumi, punya cita-cita menikmati masa tuanya di Indo. Setiap kami bertemu ia hampir selalu bertanya, "Berapa kurs dollar Jusni?" Ia tentu lalu mengalikan uang simpanannya bisa jadi berapa M rupiah di Indo. Sekarang semuanya mubazir. Why? Karena ia mewariskan semua hartanya ke Y, isterinya orang Jepang di Toronto. Kami dulu suka ngobrol juga ke Y yang senang makanan Indo. Nah, Y dan Victor tak punya anak sanak satu pun alias mereka hidup berdua. Masalahnya sudah beberapa tahun Y terkena parkinson dan alzheimer yang semakin lama semakin parah. Boleh dipastikan surat waris Y maupun power attorney-nya akan menunjuk Victor. Begitulah nuansa kehidupan pren terutama lansia, you never know and you better be prepared.

Di dalam komen yang diberikan Petrus warga milis serviamTO terhadap tayangan terdahulu, ia a.l. menyinggung bahwa teori DSC Leon Festinger bisa jadi eror kalau pembandingannya bukan ke bawah tapi ke atas. Jelas Pet, upward social comparison mengakibatkan keiri-hatian dan ketidak-hepian. Mana kita bisa jadi hepi pren membandingkan dengan si Badu yang mobilnya tiga, BMW, Mercy, Audi yang gres :-), dengan si Polan yang isterinya 4 dan semua secantik Miyabi :-), dengan si Anu yang cucunya 5 en mungil lucu-lucu. Jagoan Petrus adalah Oom Viktor Frankl, bapak logotherapy yang seperti kita ketahui, memang sarat dan hesbats ilmunya. Survivor kamp konsentrasi Jerman, mana bisa dilawan. Salah satu petuah Viktor yang juga sedikit-banyak disinggung Romo Teja di dalam presentasinya yang memicu serialku ini adalah untuk menjadi manusia spirituil. Tak mungkin orang lain bisa masuk ke dalam domain atau ruang kerohanian kita. Apa yang kita lamunkan, cita-citakan seperti dikemukakan oleh Petrus yang hepi bisa ke Afrika, tak mungkin dirusak orang lain. Lah cuma lamunan, spirituil.

Anda yang belum lansia tahu salah satu hal lagi yang bisa membuat kami hepi? Kalau kau terka fasilitas atau jasa gratisan, angka 100 untukmu :-). Danny satu lagi anak bae milis serviamTO menginformasikan sudah bisa didownloadnya software M/S Security Essentials untuk mengawasi dan membersihkan kompi Anda dari kemungkinan kena serangan virus yang setiap saat mengancam kita para cyberspacers. Sudah tentu perangkat lunak itu gratis dan kalau memang bagus, bisa diramalkan bangkrut bubarnya kumpeni seperti McAfee, Norton, AVG, dst. Nah, mengapa lansia senang yang gratisan? Sebab memenuhi kebutuhan survival mereka, yakni cukup banyak "vitamin D(uwit)" tersebut. Si Mote namun punya rumus lain. Ia katakan karena teori psiko tak ada satu pun yang ampuh cespleng untuk bisa membuat lansia jadi hepi, ia punya usul "vitamin C dan K", yakni cinta kasih. Masalahnya dengan kedua jenis "vitamin" itu, tidak mudah diperoleh atau diberikan, maupun tidak semua lansia memilikinya. Itu sebabnya di keempat daerah Blue Zones si Dan Buettner, masyarakatnya dipenuhi sang vitamin. Dpl, Mote tidak ngawur hanya resepnya sukar diterapkan karena manusia dimana saja di kolong langit ini sudah semakin "elu elu gue gue". "Jadi gimana dong Bang Jeha?," tanya Anda yang bingung. Gini pren. Kenal Suster Helen Prejean yang jadi beken karena pilem Dead Man Walking? Apa jawabannya ketika ditanya ngapain doski cari penyakit berkarya di antara napi yang sudah dihukum mati? Karena mereka adalah manusia yang lebih-lebih lagi membutuhkan cinta kasih dibandingkan si Anu si Polan si Badu. Inti jawaban Suster Helen, semakin mustahil untuk suatu hal dilakukan, semakin perlu kita melakukannya. Semoga teori si Mote bisa sukses di kota Toruntung ini dan kalau saya bertemu dengan para prenku, tidak ada satu pun yang melengos gue-gue elu-elu :-). Lam lekom.

Back to my Home Page