Hari-hari ini saya sedang berkubang di kantor atau kata anak Betawi, sedang di comberan. Maksudnya bekerja lembur, agar supaya proyek dapat selesai pada waktunya sesuai dengan keinginan juragan dan para pemegang saham. Beberapa hari yang lalu, seorang mahasiswa yang sedang kuliah kerja mengadu kepada saya bahwa beberapa test data dan programnya hilang. Saya katakan cari di pelosok-pelosok Balkan :-) dan kalau tidak ketemu, ciptakan lagi dari program yang memakai test data itu. Tentu mudah mengatakannya, sukar melaksanakannya. Lalu di dalam hati saya jadi teringat dan terkenang jaman saya mulai belajar programming dimana hampir tidak pernah program atau test data bisa hilang!
Itu adalah akhir tahun 60-an, awal tahun 70-an, jaman dinosaurus di dalam era komputer karena program yang kami buat, direkam ke dalam kartu bernama punch card. Juga cocok kalau dikatakan jaman dinosaurus sebab mesin-mesin komputer besarnya seperti gajah padahal kemampuannya kalah dibanding PC atau laptop di atas meja Anda saat ini. Bayangkan, saya harus menulis program di komputer yang memory-nya 8K, 16K, dst., padahal memory komputer Anda paling sedikit 1000 kali lebih besar kan. Demikian juga hard-disknya. Paling banter beberapa megabyte dan ini pun besarnya (disknya) seperti barbel 30 kilo dengan diameter 30 cm. Hard-disk Anda mungkin sudah beberapa gigabyte alias ribuan kali juga. Nah, diskette Anda yang sekecil itu saja sudah mampu meyimpan data lebih dari 1 meg dan kalau di-"pkzip"-kan bisa beberapa meg.
Kalau Anda tidak mengerti atau tidak pernah melihat punch card tersebut, besarnya seperti nomorbewes mobil, sekitar 20 cm x 8 cm. Itu disebut 80 column card. Ada memang yang lebih kecil yang disebut 96 column card. Umumnya programmer angkatan saya memakai 80 column card. Nah, kalau program yang kami tulis cukup panjang, besar atau total kartu per program bisa satu dos atau kotak alias 2000 kartu. Nah, nah, nah, kalau sampai program atau kartu ini jatuh ke lantai, aduuuh mau nangis rasanya. Memang bisa di-punch nomor untuk di-sort tetapi kalau program sudah mengalami macam- macam perubahan, ditambah, dibuang, diganti, urutan sort sudah tidak sama seperti waktu program mulai ditulis. Pokoknya kalau kartu jatuh berantakan alamat kerjaan deh. Itu susahnya kami, namun kemungkinan program hilang boleh dikata tidak ada. Orang gila mana yang mau mencuri kartu berdos-dos yang tidak ada manfaatnya kecuali dipakai bungkus pala manis dan kacang garing. Ya jaman dulu tukang jualan pala manis dan kacang garing bungkusnya memakai punch card.
Mengapa saya menyinggung program yang disimpan di dalam punch card? Karena saya ingin melamun lagi. Kalau program yang kami tulis, sekali compile (istilahnya) bersih dan lalu di-run jalan atau bekerja sesuai dengan tujuan program bersangkutan, maka kami sama sekali tidak "belajar" alias tidak mendapat hikmah untuk mengerti lebih baik sang program. Kalau program 'hello world' yang Anda tulis sekali jalan dan berhasil, kan Anda tidak atau belum dapat menyebut, ai yem a C progremer, ya engga? Kalau program yang kami sudah tulis sedos itu tidak jalan, nah, nah barulah kami mulai berkutet (istilahnya debugging) dan mencari kutu di program itu. Semakin berat persoalannya dan banyaknya sang kutu, semakin kenal kami akan program yang sedang kami bersihkan dari kutu itu. Kalau kemudian kami berhasil membuat program ini bersih sekali dan bekerja dengan mulus, tahan banting istilahnya meskipun diberikan segala macam data yang aneh-aneh, kepuasan yang kami peroleh berlipatan dari kalau menulis program sekali jalan. Saya lihat kehidupan pasutri atau berkeluarga pun seperti itu. Kalau tidak pernah mengalami masalah pasang surut, badai dan angin ribut, pasutri yang bersangkutan tidak akan kenal satu dengan yang lainnya sebaik mereka yang hidup di dalam badai kan? Kalau hidup pasutri adem ayem saja, tidak pernah mengalami kemelut, tidak seseru yang pernah mengalaminya kan? Kalau kemudian sesudah badai berlalu, sesudah topan reda, hubungan di dalam keluarga bukankah lebih mesra dan menarik dibandingkan sebelumnya? Program yang sering sekali di-debug dan diubah-ubah, dapat dilihat dari kartunya yang sudah lusuh atau lecek istilah Betawinya. Sebagai seorang programmer, kami merasa dekat sekali dengan program ini karena satu persatu kartu itu pernah mendapat belaian jari dan tangan kami. Demikian juga hubungan antara pasutri yang saling men-debug satu sama lain, menjadi lebih dekat karena belaian satu sama lain, baik belaian sayang maupun belaian kesal. Suatu ketika hubungan pasutri mungkin seperti kartu yang jatuh ke lantai, terasa aduh berantakan deh. Sama seperti kami programmer yang dengan setia memunguti dan lalu menyusun kembali setiap kartu program kami satu persatu, mudah-mudahan Anda juga dapat dengan tekun memulihkan kembali hubungan Anda berdua.
Sampai hari ini saya masih ingat bahwa program yang saya tulis pertama kali adalah program sort di dalam bahasa Fortran dan kami kerjakan memakai komputer Departemen PU di Jl. Pattimura, Kebayoran Baru. Waktu saya diberikan atau dijelaskan (test) datanya seperti apa yang kami harus sort, kata saya dalam hati, karena itulah pertama kali membuat program, "Kalu gue sort sendiri pake otak, beberape menit juga kelar." Maksudnya mudah sekali menyusun beberapa puluh kartu data itu agar sesuai dari yang kecil ke yang besar bila yang dipakai adalah "komputer" otak kami. Seninya adalah menyuruh "otak" lain atau komputer untuk melakukan proses sorting. Banyak sekali cara untuk melakukan sorting dan meski sudah dikritik bahwa tulisan di P-Net payah deh, tidak ilmiah :-), saya tidak bermaksud untuk membahas sorting algorithm. Jadi diperlukan waktu yang jauh lebih lama untuk memerintahkan komputer melakukan apa yang kita kehendaki. Namun Anda tentu tahu, sekali komputer sudah "ngerti", jangankan data puluhan, bilyunan pun akan mampu ia sort dalam sekejap. Juga ia tidak akan minta permisi ke belakang atau merokok dulu atau segala macam dalih lainnya untuk menangguhkan tugasnya. Nah, hubungan kita satu sama lain pun seperti itu. Bila kita ingin agar orang lain melakukan hal tertentu, lebih sukar dari kalau kita yang mengerjakannya sendiri. Namun, sekali ia "mengerti", maksudnya ia menjadi dewasa, ia tidak akan berhenti lagi alias berkembang terus. Programmer angkatan saya, selalu, wajib mempelajari bahasa mesin yang disebut assembly language atau Assembler. Semua mesin komputer mempunyai bahasa mesin tersendiri. Dengan mempunyai kemampuan memakai bahasa mesin itu, kami jadinya lebih mengenal sang komputer. Instruksi apa yang membuat ia bekerja lebih efisien, bagaimana caranya supaya ia lebih cepat memproses data tertentu, hal-hal apa yang membuat ia kewalahan, dsb. dst. Demikian pula hubungan antar manusia. Kemampuan berbahasa yang "sama" membuat kita mampu berkomunikasi lebih baik dan lebih erat. Lebih saling mengenal satu sama lain dan dapat menempatkan diri di pihak lain. Masalahnya apa itu bahasa yang sama. Apakah hanya lamunan belaka saat ini agar manusia asal Indonesia dapat berbahasa yang sama?
Pokok lamunan ketiga adalah juga dari era saya membuat program-program yang pertama di dalam karir hidup saya selama hampir 25 tahun bekerja di bidang programming. Itu adalah program menghitung uang yang dibayarkan orang Amrik kepada orang Indian untuk pulau Manhattan di New York. Harga persisnya berapa US$ pulau Manhattan itu sudah saya lupa, hanya 30 $ kalau tak salah tetapi bila didepositokan bunga berbunga, sampai tahun 1996 ini, uang yang hanya beberapa puluh $ itu sudah menjadi jutaan $ (ini PR untuk mereka yang sedang mau mulai belajar programming :-)). Coba investasi kebaikan manusia pun seperti uang bunga berbunga, kalau para misionaris di Indonesia yang sudah mulai berkarya ratusan tahun lalu, menanamkan kebaikannya seperti uang, seharusnya kebaikan yang dapat dipanen sudah bukan saja menjadi gunung tetapi sudah menutupi seluruh tanah di nusantara. Kenapa kog rakyat di tanah airku masih saja gontok-gontokkan, hidup berkotak-kotakkan, agama bersaingan dengan agama, suku hantam-hantaman dan iri-irian? Ah, tak habis-habisnya litani ini. Tahun 2000 Anda katakan? Bagaimana kalau tahun 3000? "Aku mau hidup seribu tahun lagi," kata Chairil Anwar. Ya, untuk itu saya juga mau menanti 1000 tahun lagi sebab saya tidak percaya saat-saat ini bahwa hal itu akan terjadi, kecuali, kecuali capres Pras dapat menjadi presiden di Indonesia :-). Salam dari Toronto, selamat berakhir pekan dan selamat melamun.