"Jusni, come over here, I'll show you something," begitu kata juragan saya kemarin ketika melihat saya lewat kamarnya. Ia sedang bermain-main dengan hompej :-) dan karena ia yang membelikan saya buku HTML Sourcebook (anggaran departemen :-)) maka saya pernah sekali memperlihatkan hompejku ke beliau. "Did you code your HTML source by hand or you use a tool?," tanyanya. "I wrote it my own because I don't have any tool, so thanks for the book" :-). "Look at this, what will happen to this text if I save as type of HTML," katanya lagi memperlihatkan suatu jendela di displeinya. Saya mengamatinya dan benar saja, secara "gemilang" text-nya sudah menjadi suatu HTML source, siap untuk dimasukkan ke hompej. "Wow, I don't have that Lotus Smartsuite WordPro," kata saya mengagumi hasil sang word processor. "Look at this table I am going to create and save," katanya lagi. "Wow, do you know how tedious to create table under HTML?" Benar saja, semua tag yang dibutuhkan tercipta tetapi kog tabelnya tidak persis seperti yang ia ciptakan di layar displeinya. Ada kesalahan, atau ia salah pakai, atau ada kutu yang mesti dimetani :-).
Lalu kami berdua melamun :-). Katanya, "You are right, we need to know HTML the way you started to learn, in order to use it properly." Yah, mengandalkan suatu hasil kepada tool atau alat mengakibatkan ketergantungan. Berdua kami memperhatikan source text yang di-generate oleh si WordPro. Dibekali sedikit pengetahuan mengenai HTML, memang persepsi saya berbeda alias tidak kelabakan membacanya dan dapat memperkirakan apa yang terjadi. Menarik membaca tayangan gonjang-ganjing di P-Net karena ada pendeta salah asuhan :-) yang "sampahnya" dimakan warga Net ini :-). Persepsi manusia memang berlain-lainan dan sedihnya sebagian ingin mencekoki keyakinan dan persepsinya itu kepada yang lainnya, tentu demi sesuatu yang diyakini lebih benar atau lebih baik.
Saya jadi ingat lagi kepada pengalaman di kantor. Karena semakin sempitnya 'real estate' atau ruangan yang tersedia, maka juragan kelas kakap di kantor sedang mengkaryakan suatu perusahaan khusus untuk melakukan perencanaan ruang kantor yang baru. Intinya adalah, para programmer yang sekarang sekamar sendirian atau berdua, akan diberikan ruangan serbaguna dimana beberapa orang bekerja. Ada yang menyebutnya 'open space concept', ada yang memberikan nama 'cubicle system'. Kebetulan saya diundang ke suatu diskusi dengar pendapat di antara para perancang dengan kawula rakyat. Betul saja dugaan saya, banyak suara programmer yang sengak dan hampir semua menolak mentah-mentah konsep 'open space'. Mereka tidak mau kehilangan 'privacy' dengan alasan yang sangat masuk diakal, yakni akan menurunkan produktifitas dan kreativitas.
Lalu saya sempat berkomentar karena sekitar 9 tahun saya bekerja di lingkungan kantor seperti itu, baik di BDN Thamrin, Wisma Metropolitan, maupun di kantor- kantor langganan kami. Kemudian 16 tahun saya bekerja di Toronto dengan konsep dikamarkan :-). Saya dapat melihat manfaat keduanya, keuntungan dan kerugian masing-masing. Mayoritas kolegaku, terutama yang mentah-mentah menolaknya, karena tidak pernah bekerja di lingkungan terbuka, tidak akan sampai pikiran- nya kepada sang manfaat. Belum apa-apa mereka sudah nasping, emotsi, muka dan mata merah bernyala-nyala dan protes akan gerakan "mengkomuniskan" mereka :-). Pengalaman membuat perbedaan. Dalam hati saya, kalau sampai hal ini mau dipaksakan juga, memang akan terjadi revolusi kecil-kecilan, produktifitas akan merosot, sebagian programmer akan 'say goodbye', kekacauan mungkin saja terjadi. Juragan kami menyadarinya, makanya mereka melakukan 'dengar pendapat' itu sebelum mereka melaksanakannya, atau tidak jadi melakukannya. Inilah bedanya perusahaan dengan negara bersepatu-seragam :-(. Selamat bersedih kalau Anda memilih bersedih membaca tayangan sepatu si Jim, salam dari Toronto.