Lamunan Seorang Programmer XXIV

"Yang, kenapa waktu kamu dulu nulis program-program di Indonesia itu, kamu tidak memperhitungkan Year 2000?", tanya Cecilia kepada saya kemarin setelah ia juga membaca LSP dan tayangan Y2K untuk mencerahkan Mo Kus :-). "Waduh, pertanyaan yang bagus," kata saya beberapa detik dalam hati sebelum siap-siap membela diri. Seperti mungkin sebagian dari Anda sudah mengetahui, program yang saya tulis di Indonesia tahun 70-an waktu masih bekerja disana adalah program yang termasuk 'green-layer' atau lapisan ketiga program komputer dan lebih sering disebut dengan sistim aplikasi. Program-program yang saya tulis sejak pindah ke Kanada adalah di 'yellow-layer', lapisan kedua, berupa compiler dan utilities.

"Yah, gilaak dong kalau aku pusing-pusing memikirkan tahun 00 waktu sedang coding atau men-design spesifikasinya," gitu jawab saya pertama-tama. "Mana programku akan jadi efisien dan cepat kalau untuk setiap perhitungan tahun aku mesti memeriksa hal itu. Bayangkan, selama 20-30 tahun sang program akan mengerjakan hal yang sia-sia belaka alias tidak ada gunanya. Belum space atau tempat di hard-drive (dahulu juga tape-drive) yang mesti disediakan kalau angka tahun disimpan 4 digit. Ya boros," jelasku lagi. "Yang lebih parah, tentu pekerjaanku tidak akan selesai dalam waktu yang sudah diperkirakan, programmer mana yang mau susah-susah berpikir 20-30 tahun kemuka?"

Yah, karena planning dan system design yang "egois", maka para programmer jaman dahulu sudah sedikit banyak menyebabkan akan terjadinya kekalutan di tahun 2000, bila program-program yang ditulisnya itu tidak mengerti tahun 00. Sedikit banyak, kami juga telah menciptakan lapangan kerja bagi para programmer yang aktif di saat ini :-). Kemarin saya bertemu dengan seorang contractor (pegawai kontrakan) di kantor yang terakhir menjadi anggota tim saya. "Oh, how are you G., you are back again eh?" ('Eh' adalah kebiasaan orang Kanada menambahkan imbuhan itu di dalam pembicaraan dan si kadal sudah menyesuaikan dirinya. :-)) "Yes." "What project are you joining?" Ia menyebut suatu proyek atau software program yang menyangkut Year 2000 :-). Lalu siangnya saya bertemu dengan boss yang menanganinya dan memang ia sedang dalam 'hiring mode'.

Saya lalu jadi melamun terus. Saya berani taruhan, 500$ uang milik Yayasan Silimo yang masih di kantongku :-), bahwa tidak ada satupun programmer gilaak di dunia ini yang pada saat membereskan persoalan Y2K akan memikirkan problem yang akan terjadi dari tahun 9999 ke tahun 10000! Orang gilaak mana yang akan mempersiapkan programnya agar dapat dipakai lebih dari 8000 tahun? Pada saat itu semua komputer sudah akan seperti idola Anda, ya si Data dari film Star Trek :-). Kita tinggal bilang, "Hey computer (tentu kita kasih nama, katakan Yoko deh, dari Yono dan Moko, juga jagoan di suatu serial cerita silat), hey Yoko, tomorrow is January 1st year 10000, so please adjust EVERYTHING to that year. Don't forget to prepare a champagne for me at midnight." "Aye aye boss, will do. Do you want the champagne cold or warm eh?" "Doesn't matter; wait, change the champagne to tuak, it's much better or if you have berem Bali, that's the best." "I don't have berem Bali, how about Japanese sake?" "Oh, I don't like sake, so just get the tuak, make it a bit warm." "Okay boss."

Nah, komputer majordomo bernama Yoko ini tidak perlu lagi diprogram-program model jaman sekarang. Tinggal diajak ngobrol, ngerti beliau :-). Aciiiik kata Natali. Betul, masalahnya kita semua sudah akan amblas alias kojor. Lho, kan kita akan bertemu lagi di "tempat yang dijanjikan" itu? "I wish, as you wish." Mungkin kita perlu mencontoh Zakeus seperti renungan hari ini. "Apa itu?" kata yang lupa. Bacalah Lukas 19:1-10. Selamat membaca dan merenung, salam dari TO.

Home Next Previous